http://www.indonesia.travel/quiz/index.php?fuid=100001862491068
selamat datang
Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatu. Slamat datang saya ucapkan kepada para pengunjung blog yang sederhana ini. Disini saya mengharapkan kepada para pengunjung agar memberikan komentarnya yang bertujuan memperbaiki maupun meningkatkan karya penulis.
salam manis saya ucapkan kembali kepada para pengunjung.... Smoga kita menjadi orang-orang sukses.
saya akhiri dengan fastabiqul khoiroj Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.
salam manis saya ucapkan kembali kepada para pengunjung.... Smoga kita menjadi orang-orang sukses.
saya akhiri dengan fastabiqul khoiroj Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.
Minggu, 03 Juli 2011
cintai indonesia
Sabtu, 18 Juni 2011
jurnal pendidikan
PENINGKATAN KUALITAS
BELAJAR MENGAJAR DENGAN CARA PENGEMBANGAN KREATIFITAS DI DUNIA PENDIDIKAN
Frans Rezeki Ramadansyah
Abstrak :
Pendidikan khususnya di negeri yang
kita cintai ini sangat memperhatinkan itu disebabkan banyaknya pihak yang tidak
tau menau mengenai pensisikan ini. Sangat disayangkan bila gara-gara kurang
perhatiannya kita terhadap dunia pendidikan membuat kita kehilangan generasi
yang berpendidikan apabila generasi penerus kita tidak diberi pendidikan yang
layak Negara yang kita banggakan ini mau jadi apa? Apa kita mau dijajah Negara
lain? Apa kita menginginkan bila orang-orang yang ada dinegara ini menjadi babu
terus-menerus? Jika tidak mari kita perbaiki mulai dari sekarang pendidikan
kita.
Agar para anak cucu kita tidak
ketinggalan dengan anak-anak Negara lain sehingga mereka dapat berkarya dan
bahkan memcatatkan nama Negara keposisi yang di hsormati Negara –negara lain.
Mari kita perbaiki mulai dari yang kecil dulu yakni orang yang bekualaitas,
guru yang berkualaitas hingga system pembelajaran yang berkualaitas. Di tulisan
ini akan dikualas habis mengenai hal tersebut.
Kata Kunci : kualitas, kreatifitas,
pendidikan.
Pendahuluan :
Puji
syukur penulis ucapkan kepada Allah Yang
Maha Esa karenaNya lah tulisan yang sederhana ini dapat di selesaikan dengan
tepat waktu dan semoga tulisan ini dapat membuat kita lebih baik lagi dari yang
sebelumnya.
Disini akan di ungkit beberapa
faktor yang dapat membuat dunia pendidikan yang ada di Indonesia ini dapat
,lebih maju bahkan lebih baik dari Negara- Negara yang telah maju sebelumnya.
Bebelrapa faktor diantaranya adalah: faktor kreatifitas dalam kemampuan membaca
dan menulis dimulai dari tingkat sekolah dasar, lalu menyaipkan guru yang
berkualitas dengan pendekatan mikro teaching, dan pendidik yang kreatif sebagai
teras trasformasi di dunia pendidikan khususnya di Indonesia yang kita cintai
ini.
Pembahasan :
Seperti
mana yang telah di tuliskan diatas bahwa kia butuh reformasi pendidikan agar
pendidikan di Indonesia ini dapat lebih baik lagi. Pada alinea ke 3 dalam UUD
1945 dikatakan kita harus ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa hal ini
memang tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang trelah memberikan 20% dari
pendapatan APBD disalurkan kepada dunia pendidikan. Itu merupakan langkah awal
untuk membantu pendidikan di Negara ini lebih baik lagi. Tapi perlu kita
ketahui bahwa dengan uang saja pendidikan tidak akan maju perlu usaha yankni
meningkatkan kreatifitas para peserta didik agar mampu menciptakan
inovasi-inovsi terbaru untuk perkembangan negara ini.
Terobosan yang pertama adalah dengan
beberapa faktor yang dijelaskan di bawah ini. Anda penasaran? Mari kita
telusuri!
1.
Faktor
Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca dan Menulis
Faktor
ini sangat berpengaruh terhadap maju atau tidaknya pendidikan di Negara
tersebut. Kita ketahui bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang paling
mudah untuk mendapat maupun memahami ilmu tersebut. Dan kegiatan menulis juga
sangat berpengaruh karena kegiatan ini adalah kegiatan yang mana apabila kita
telah membaca kita harus dapat menuliskannya itu bertujuan agar kita lebih
memahami dan bahkan kit adapt membuat metode terbaru setelah kita melakukan
kegiatan menulis. Adapun faktor-faktornya adalah:
Faktor kreatifitas dalam membaca
yakni Hasil uji statistik menunjukkan
hal-hal sebagai berikut. Pertama, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan
yang signifikan antara tingkat kreativitas siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah
Malang yang laki-laki dan yang perempuan
dinyatakan diterima. Dengan diterimanya hipotesis nol berarti tidak ada
perbedaan yang signifikan antara tingkat kreativitas siswa laki laki dan perempuan,
meskipun siswa perempuan memiliki rata-rata kreativitas lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa laki-laki, yakni 66,52 B 64,42 = 1,80
point.
Kedua ialah, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan
yang dignifikan antara tingkat kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam
Sabilillah Malang yang laki-laki dan yang perempuan dinyatakan diterima. Dengan
diterimanya hipotesis
nol ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
antara tingkat kemampuan
menulis siswa laki-laki dan siswa perempuan. Meskipun skor kemampuan membaca siswa perempuan
lebih tinggi dibandingkan dengan rerata skor siswa laki-laki, tetapi secara statistik
perbedaan tersebut
tidak signifikan.
Faktor
kreatifitas dalam menulis
adalah uji statistik menunjukkan hasil berikut. Pertama, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan
yang signifikan antara tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam
Sabilillah Malang yang laki-laki dan Yang perempuan dinyatakan ditolak. Dengan
ditolaknya hipotesis nol ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara
tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang yang
laki-laki dan yang perempuan. Kemampuan menulis siswa perempuan lebih tinggi
dibandingkan dengan kemampuan menulis siswa laki-laki.
Kedua, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaanyang signifikan
antara tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang yang
kreatif dan yang kurang kreatif dinyatakan ditolak. Dengan ditolaknya hipotesis
nol ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kemampuan
menulis siswa kreatif dan siswa kurang kreatif.
Ketiga, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada pengaruh interaksi yang
signifikan tingkat kreativitas dan gender terhadap kemampuan menulis siswa
kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang dinyatakan ditolak. Dengan ditolaknya
hipotesis nol ini berarti bahwa ada pengaruh interaksi yang signifikan tingkat
kreativitas dan gender terhadap kemampuan menulis. Faktor kreativitas dan faktor
gender secara bersama-sama berpe-ngaruh terhadap kemampuan menulis.
Inilah faktor
yang utama dalam reformasi pendidikan di Negara ini. Khususnya faktor dalam
kegiatan kreatifitas membaca dan menulis sehingga kita akan meneruskan ke
faktor yang lain.
2. Faktor
Menyiapkan Guru Yang Berkualitas
Faktor ini
merupakan salah satu yang utama dalam pembentukan maupun pengembangan dunia
pendidikan yang ada di dunia khususnya di Indonesia karena pepatan
mengatakan “tidak ada di dunia ini orang
yang bodoh hanya ia tidak mendapatkan guru yang baik” jadi dapat dikatakan
peran guru maupun para tenaga pengajar sangatlah berperan karena jika tampanya
bagaiman bias berjalan proses belajar mengajar dengan baik. Tapi yang di
jelaskan disini adalah bagaimana menyiapkan guru yang berkualitas yang akan
mengajar pera peserta didik yang kreatif. Mari kita terusuri lebih lanjut lagi.
Adapun faktor untuk menyiapkan guru yang
berkualitas dengan cara pendekatan mikro teaching yakni pengajaran kecil.
Disini para calon guru akan dilatih
bagaimana cara mengajar yang baik itu. Seorang guru yang ideal menurut Uzer Usman (1992) mempunyai tugas
pokok yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Oleh karena itu seorang guru harus
memiliki kompetensi. Dalam profesi keguruan kita mengenal istilah kompetensi.
Kompetensi itulah yang digunakan untuk menilai apakah seorang guru berkualitas
atau tidak. Ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu: (1) kompetensi
personal, (2) kompetensi sosial, dan (3) kompetensi profesional.
Kompetensi personal lebih menunjukkan
pada kematangan pribadi. Di sini aspek mental dan emosional harus benar-benar
terjaga. Kompetensi social lebih menunjukkan pada kemampuan guru untuk
berelasi, berinteraksi. Guru memperlihatkan keluwesan dalam pergaulan dengan
siswa, kepala sekolah, dan juga teman sejawat di tempat ia mengajar. Guru bisa
menciptakan persahabatan yang baik. Keberadaannya memberi manfaat yang positif.
Sedangkan kompetensi profesional lebih menunjukkan pada kemampuan yang dimiliki
guru sebagai pengajar yang baik.
Raka Joni (1979) berdasarkan Komisi
Kurikulum Bersama P3G menetapkan dan merumuskan bahwa kompetensi profesional
guru di Indonesia terdiri atas 10 kompetensi, yakni: (1) menguasai bahan
pelajaran; (2) mengelola program pembelajaran; (3) mengelola kelas; (4)
menggunakan media dan sumber belajar; (5) menguasai landasan pendidikan; (6)
mengelola interaksi belajar mengajar; (7) menilai prestasi belajar; (8)
mengenal fungsi dan layanan bimbingan dan penyuluhan; (9) mengenal dan
menyelenggarakan administrasi sekolah; dan (10) memahami dan menafsirkan hasil
penelitian guna keperluan pengajaran.
Dari kesepuluh kompetensi profesional
itu menurut hemat penulis dapat dirangkum menjadi dua kompetensi yang paling
utama, yaitu menguasai bahan pelajaran dan dapat mengajarkannya dengan jelas
dan menarik. Kedua kompetensi inilah dalam kondisi objektif belum terpenuhi.
Mungkin kita pernah mendengar komentar, “Si guru A itu hebat benar penguasaan
materinya tetapi tidak bisa mengajar”, atau sebaliknya, “Si guru B itu pandai mengajar
tetapi minim penguasaan materi”.
Inilah penjelasan mengenai faktor
menyiapkan guru yang berkualitas dengan metode pendekatan pengajaran mikro
teaching dengan metode kita dapat lebin mudah menyiapkan guru yang berkualitas
pastinya.
3.
Pendidik Kreatif Sebagai Teras Transformasi Dunia Pendidikan
Dan
faktor yang terakhir adalah pendidik yang kreatif sebagai teras
transformasi bagi dunia pendidikan. Mengapa dikatakan sebagai teras ini
dikarenakan pendidik sebagai batu loncatan bagi dunia pendidikan. Yang jadi
pertanyaan adalah pendidik yang bagaimana yang dapat menjadi teras
transformasi? Jawabannya adalah pendidik yang kreatif yang dapat membentuk para
peserta didiknya menjadi orang-orang yang pintar, bukan hanya itu ia juga dapat
membentuk peserta didik yang kreatif juga.
Literasi kreatif amat penting dalam
dunia pendidikan kerana ia mampu melahirkan sebuah citra masyarakat kreatif
(creative society) dan negara kreatif (creative nation). Temapt terbaik
memupuk semangat kreativiti seperti
inkuiri, kreativiti dan diskoveri pada pelabagai tahap pelajar adalah menerusi
pembelajaran dan pengajaran; sama ada dalam pembelajaran formal mahu pun bukan
formal. Di Malaysia, potensi untuk melahirkan manusia yang kreatif dan inovatif
ini terpancar dalam Falsafah pendidikan Kebangsaan serta pengaplikasiannya
dalam pedagogi dan kurikulum mata pelajaran (Abd. Rahim, 1999).
Pendidik kreatif memainkan peranan yang
amat penting sejak di alam prasekolah. Pada tahap
prasekolah kanak-kanak telah didedahkan dengan pelbagai elemen pembelajaran. Pada tahap ini sifat dan sikap kanak-kanak
untuk belajar tentang sesuatu yang belum
diketahuinya sangat tinggi dan kesan terhadap pembelajaran pada ketika ini
juga amat penting untuk kanak-kanak tersebut membina
kekuatan dan kepintaran pikirannya.
Oleh karena itu para pendidik zaman
sekarang jangan terbuai atas uang yang kita dapatkan dari pekerjaan kita
sebagai pendidik tapi marilah kita contoh flim “ Laskar Pelangi” mereka adalah
guru yang kokoh serta ikhlas yang mana mereka mau membantu para peserta didik
yang tidak mampu agar mendapatkan ilmu pengetahuan yang besar. Mari kita contoh
mereka dan sekarang niatkan dalam hati kita bersama bahwa kelak bila jadi guru
kita tidak akan memandang materi tapi bagaiman caranya agar generasi penerus
tidak adalagi yang buta huruf dan mari kita tingkatkan pendidikan di Negara
kita ini. Semangatlah wahai calon guru jangan mudah menyerah semoga kita semua
menjadi guru yang kreatif.
Kesimpulan :
Pendidik
kreatif memainkan peranan yang amat penting sejak di alam prasekolah. Pada tahap
prasekolah kanak-kanak telah didedahkan dengan pelbagai elemen pembelajaran. Pada tahap ini sifat dan sikap kanak-kanak
untuk belajar tentang sesuatu yang belum
diketahuinya sangat tinggi dan kesan terhadap pembelajaran pada ketika ini
juga amat penting untuk kanak-kanak tersebut membina
kekuatan dan kepintaran pikirannya.
Jadi mari kita
tingkatkan kekretifan kita agar bangsa ini melahirkan orang-orang dapt merubah
dunia dan dapat mengharumkan nama bangsa di dalam maupun di luar negeri. Dan
mari kita selamatkan anak bangsa dari kebodohan agar bangsa kita ini bebas dari
kebodohan. Jika slogan pemadam kebakaran adalah” jangan pulang sebelum padam”
penulis membuat slogan bagi kita calon guru “ jangan pulang sebelum semua orang
tau dan pintar ( kreatif ). Semoga tulisan ini bermamfaat bagi saya dan
bermamfqaat bagi kita semua. Jika ada kritik dan saran yang bersifat membangun
tulisan ini saya sebagai penulis mengharapkannya. Kepada Allah saya mohon ampun
kepada semua pembaca saya mohon dimaafkan atas penulisan yang menurut pembaca
salah saya mohon dimaafkan.
Daftar Pustaka :
Ø Khalid Esa dkk.2004.pendidik kreatif sebagai teras transformasi
dunia pendidikan,Malasya.Fak.
pengurus dan pembangun sumber manusia. Universitas Teknologi Malasya.
Ø Kwartolo yuli SPd.2005.menyiapkan guru yang berkualitas dengan
pendekatan mikro teaching,Jakarta. jurnal pendidikan penabur.
Ø Rofiuddin Ahmad.2003.faktor kreatifitas dalam kemampuan membaca
dan menulis,Malang. Fak. Pend. Bahasa
dan Sastra UNM.
metode pembelajaran
Metode Pembelajaran
Frans
Rezeki Ramadansyah
Abstrak :
Metode
pembelajaran dewasa ini pada umumnya menggunakan pendekatan system. Dengan
pendekatan ini pembelajaran dipandang sebagai suatu system. Suatu system
mempunyai sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan berhubungan dalam
rangka mencapai tujuan. System pembelajran juga mempunyai sejumlah komponen
yaitu, materi, metode, alat, dan evaluasi. Semua komponen itu saling
berinteraksi dan berhubungan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Kata Kunci :
pembelajaran
dan pengajaran ,metode pengajaran.
Pendahuluan :
Kata metodologi berasal dari bahasa Latin yakni meta yang
berarti jauh (melampaui) dan hodos yang berarti jalan (cara). Metodologi adalah
ilmu mengenai cara mencapai tujuan. Dengan demikian, metodologi pengajaran
adalah ilmu yang mempelajari cara untuk melakukan aktivitas yang sistematis
dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk
saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan
dengan baik, yang berarti tercapainya tujuan pengajaran. Agar tujuan pengajaran
tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, pendidik harus
mengetahui, mempelajari, dan mempraktikkan beberapa metode mengajar pada saat
mengajar.
Pembahasan :
1.
Pembelajaran
atau Pengajaran
Tardif (1989) mendefinisikan mengajar sebagai tindakan yang dilakukan seseorang (pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs (1991), seorang ahli psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu:
1. Kuantitatif
Mengajar diartikan sebagai transmission of knowledge, yakni
penyebaran pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan
bidang studinya dan menyampaikan kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya.
Masalah berhasil atau tidaknya peserta didik bukan tanggung jawab pendidik.
2.
Institusional
Mengajar
adalah penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini,
pendidik dituntut untuk selalu siap menyesuaikan berbagai teknik mengajar
terhadap peserta didik yang memiliki berbagai macam tipe belajar, bakat,
kemampuan, dan kebutuhan.
3. Kualitatif
Mengajar
adalah upaya memfasilitasi pembelajaran (facilitation of learning), yaitu upaya
membantu memudahkan kegiatan belajar peserta didik mencari makna dan
pemahamannya sendiri.
2. Metode
Pembelajaran atau Pengajaran
A. Metode
ceramah
Metode ceramah (preaching method) adalah sebuah metode
pengajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada
sejumlah siswa, yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Syah M., 2000).
Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis
untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan
literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli serta daya paham
peserta didik. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah:
1. Membuat
peserta didik pasif.
2. Mengandung unsur paksaan kepada peserta didik.
3. Mengandung sedikit daya kritispeserta didik (Daradjat, 1985).
4. Bagi peserta didik dengan tipe belajar visual akan lebih sulit menerima pelajaran dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki tipe belajar audio.
5. Sukar mengendalikan sejauh mana pemahaman belajar peserta didik.
6. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme.
7. Jika terlalu lama dapat membuat jenuh (Djamarah, S.B., 2000).
2. Mengandung unsur paksaan kepada peserta didik.
3. Mengandung sedikit daya kritispeserta didik (Daradjat, 1985).
4. Bagi peserta didik dengan tipe belajar visual akan lebih sulit menerima pelajaran dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki tipe belajar audio.
5. Sukar mengendalikan sejauh mana pemahaman belajar peserta didik.
6. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme.
7. Jika terlalu lama dapat membuat jenuh (Djamarah, S.B., 2000).
Beberapa
kelebihan metode ceramah adalah:
1. Pendidik mudah menguasai kelas.
2. Pendidik mudah menerangkan banyak bahan ajar berjumlah besar.
3. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar.
4. Mudah dilaksanakan (Djamarah, S.B., 2000).
1. Pendidik mudah menguasai kelas.
2. Pendidik mudah menerangkan banyak bahan ajar berjumlah besar.
3. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar.
4. Mudah dilaksanakan (Djamarah, S.B., 2000).
B. Metode
diskusi
Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan metode diskusi sebagai
metode mengajar yang sangat berkaitan dengan pemecahan masalah (problem
solving). Metode ini sering disebut sebagai diskusi kelompok dan
resitasi/pelafalan bersama (socialized recitation). Tujuan metode diskusi dalam
proses belajar mengajar adalah:
1. Mendorong peserta didik berpikir kritis.
2. Mendorong peserta didik mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
3. Mendorong peserta didik menyumbangkan buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama.
4. Mengambil satu atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang cermat.
Kelebihan
metode diskusi adalah:
1. Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
2. Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang Iebih baik.
3. Membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan peserta didik bersikap toleransi (Djamarah, S.B., 2000).
1. Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
2. Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang Iebih baik.
3. Membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan peserta didik bersikap toleransi (Djamarah, S.B., 2000).
Kelemahan
metode diskusi adalah:
1. Tidak dapat digunakan dalam kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Cenderung dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah, S. B., 2000).
1. Tidak dapat digunakan dalam kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Cenderung dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah, S. B., 2000).
C. Metode
demontrasi
Metode demonstrasi adalah metode pengajaran dengan cara memperagakan
benda, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara
langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok
bahasan atau materi yang sedang disajikan (Syah M., 2000). Metode demonstrasi
adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara
kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan ajar (Djamarah, S. B., 2000).
Manfaat
psikologis pengajaran dari metode demonstrasi adalah:
1. Perhatian peserta didik dapat lebih dipusatkan.
2. Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik (Daradjat, 1985).
Kelebihan metode dernonstrasi adalah:
1. Membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3. Kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Djamarah, S. B., 2000).
1. Perhatian peserta didik dapat lebih dipusatkan.
2. Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik (Daradjat, 1985).
Kelebihan metode dernonstrasi adalah:
1. Membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3. Kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Djamarah, S. B., 2000).
Kelemahan
metode demonstrasi sebagai berikut:
1. Peserta didik kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang akan diperagakan.
2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang
menguasai apa yang didemonstrasikan (Djamarah, S. B., 2000).
1. Peserta didik kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang akan diperagakan.
2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang
menguasai apa yang didemonstrasikan (Djamarah, S. B., 2000).
D. Metode
ceramah plus
Metode ceramah plus adalah metode pengajaran yang
menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan
dengan metode lainnya. Terdapat tiga macam metode ceramah plus yaitu:
1. Metode ceramah plus tanya jawab
dan tugas
Metode ini adalah metode pengajaran yang menggabungkan antara ceramah dan tanya jawab serta pemberian tugas. Tata Cara metode campuran ini adalah:
a. Penyampaian materi oleh pendidik.
b. Pemberian peluang tanya jawab antara pendidik dan siswa.
c. Pemberian tugas kepada siswa.
Metode ini adalah metode pengajaran yang menggabungkan antara ceramah dan tanya jawab serta pemberian tugas. Tata Cara metode campuran ini adalah:
a. Penyampaian materi oleh pendidik.
b. Pemberian peluang tanya jawab antara pendidik dan siswa.
c. Pemberian tugas kepada siswa.
2. Metode ceramah plus diskusi dan
tugas
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengombinasiannya, yaitu pertama pendidik menguraikan materi ajar, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengombinasiannya, yaitu pertama pendidik menguraikan materi ajar, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
3. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan
(CPDL)
Metode ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan dan memperagakan materi serta latihan keterampilan.
Metode ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan dan memperagakan materi serta latihan keterampilan.
E. Metode
resitasi
Metode
resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat
resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan metode resitasi adalah
(Djamarah, S. B., 2000):
1. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
2. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab, dan mandiri.
1. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
2. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab, dan mandiri.
Kelemahan
metode resitasi adalah sebagai berikut:
1. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan, yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan temannya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
2. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan
1. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan, yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan temannya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
2. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan
F. Metode
eksperimental
Metode eksperimental atau percobaan adalah metode pemberian
kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih
melakukan suatu proses atau percobaan (Djamarah, S. B., 2000). Metode
eksperimental merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat tertentu
dan dilakukan lebih dari satu kali, misalnya percobaan kimia di laboratorium.
Kelebihan metode eksperimental
adalah:
1. Metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata pendidik/pengajar atau buku.
2. Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang ilmu dan teknologi.
3. Dengan ini, diharapkan terbina peserta didik yang akan menciptakan terobosan atau penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
1. Metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata pendidik/pengajar atau buku.
2. Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang ilmu dan teknologi.
3. Dengan ini, diharapkan terbina peserta didik yang akan menciptakan terobosan atau penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kelemahan metode eksperimental
adalah:
1. Tidak cukupnya ketersediaan alat menyebabkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen.
2. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, peserta didik harus menunggu untuk melanjutkan pelajaran.
3. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
1. Tidak cukupnya ketersediaan alat menyebabkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen.
2. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, peserta didik harus menunggu untuk melanjutkan pelajaran.
3. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
Kesimpulan :
Mengajar merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan
timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
Seorang ahli psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian
yaitu : kuantitatif, institusional,
kualitatif.begitu banyak metode dan cara pengajaran yang berguna bagi para pendidik atau guru dalam mengajar,akan tetapi seorang guru sendirilah yang mengerti bagaimana menanggapi siswanya. Dan dalam hal ini disini akan kita dituntut untuk membuat metode pembelajaran yang dapat membantu kita dalam melakukan kegiatan mengajar.
kualitatif.begitu banyak metode dan cara pengajaran yang berguna bagi para pendidik atau guru dalam mengajar,akan tetapi seorang guru sendirilah yang mengerti bagaimana menanggapi siswanya. Dan dalam hal ini disini akan kita dituntut untuk membuat metode pembelajaran yang dapat membantu kita dalam melakukan kegiatan mengajar.
Daftar
Pustaka :
-
Sumiati,
Drs. 2008. Metode Pembelajaran. CV Wacana Prima. Bandung.
-
Buku
Ajar Pendidikan dalam Keperawatan Oleh Ns. Roymond H. Simamora, M.Kep.
.
Selasa, 07 Juni 2011
artikel ke II
PENGARUH KOMPETENSI
GURU
DALAM MENINGKATKAN MUTU KELULUSAN
DALAM MENINGKATKAN MUTU KELULUSAN
Frans Rezeki
Ramadansyah
Abstrak :
Ketidakefektifan
proses belajar yang terlalu menekankan pada penguasaan teori dan kognisi adalah
akibat lain rendahnya kualitas lulusan. Beban pembelajaran yang terlalu
terstruktur dan banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas telah menyebabkan
proses belajar yang tidak sesuai dengan kondisi dan perubahan sosial. Keadaan
ini menjadikan proses belajar yang terlalu monoton, tidak menarik, dan tidak
mampu mengembangkan kreatifitas siswa, guru, dan kepala sekolah dalam
mengembangkan inovasi pendekatan pembelajaran.
Kata kunci : Kompetensi
Guru, Mutu Lulusan.
Pendahuluan :
Bismillahirrohmanirrohim puji syukur
penulis ucapkan kepada tuhan Yang Maha Esa yang mana telah memberikan kesehatan
dan kesempatan untuk menyelesaikan Tulisan yang sederhana ini jika tampa
kekuasaannya penulis mungkin tidak dapat menulis ini dengan selesai dan atas
petunjukNya jualah penulis dapat memberikan judul yang tidak seberapa ini.
Semoga tulisan ini dapat menambah ilmu pengetahuan kita semua.
Dalam hal ini
penulis akan menjelaskan betapa pentingnya peranan guru yang memiliki kemampuan
dalam mengajarkan atau menyampaikan mata pelajaran seehingga akan menghasilkan
para peserta didik yang kompeten. Ini sebuah PR bagi kita para penerus bangsa
yang akan membawa kearah mana Negara ini akan dibawa.
Namun
di sisi lain tingkat kecukupan guru masih rendah. Di lapangan masih banyak
terjadi seorang guru mengajar untuk beberapa kelas sekaligus terutama di
jenjang pendidikan dasar. Dalam kondisi seperti itu sangat sulit bagi seorang
guru bisa tampil profesional. Rasio guru-siswa yang tidak ideal berakibat pada
rendahnya kinerja guru.
Pembahasan :
Ketidakefektifan
proses belajar yang terlalu menekankan pada penguasaan teori dan kognisi adalah
akibat lain dari rendahnya kualitas lulusan. Beban pembelajaran yang terlalu
terstruktur dan banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas telah menyebabkan
proses belajar yang tidak sesuai dengan kondisi dan perubahan sosial. Keadaan
ini menjadikan proses belajar yang terlalu monoton, tidak menarik, dan tidak
mampu mengembangkan kreatifitas siswa, guru, dan kepala sekolah dalam
mengembangkan inovasi pendekatan pembelajaran. Rendahnya mutu pendidikan
diperlihatkan hampir oleh semua tingkat pendidikan dan ini menunjukkan rendahnya.
- Kompetensi Guru Sekolah Dasar .
Guru wajib memiliki
kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat jasmani dan
rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Kompetensi
dasar yang harus dimiliki guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi personal atau
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (UU No.14 Th.
2005: psl. 8 dan 10). Depdiknas (2001) merumuskan beberapa kompetensi atau kemampuan yang sesuai seperti, kompetensi
kepribadian, bidang studi, dan kompetensi pada pendidikan/pengajaran. Suparno, (2004:47) mengatakan kompetensi ini,berkaitan
dengan kemampuan guru dalam mengajar, membimbing, dan juga memberikan teladan
hidup kepada siswa. Berdasarkan hasil penelitian, banyak guru kita masih rendah
dalam kompetensi pengajaran, maka dalam pendidikan profesi dan sertifikasi kemampuan keterampilan
mengajar harus diutamakan (Paul Suparman, KR, 15/11/ 2005:10).
Departemen Pendidikan
Nasional (2008:3) telah menyusun kompetensi guru meliputi pedagogik, kepribadian,
profesional, dan social.
a. Kompetensi Pedagogik
Menurut Zid (2008:6), Kompetensi pedagogik merupakan
kemampuan pengelolaan peserta didik yang meliputi pemahaan wawasan2 atau landasn kependidikan, pemahaman terhadap
peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perancangan pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran yang
mendidik dan dialogis, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik
untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang diniilikinya. Kompetensi pedagogik memiliki keterkaitan
yang erat dengan wawasan kependidikan dan akademik. Kompetensi akademik, yakni
menguasai materi pembelajaran sesuai bidangnya. Kemampuan dalam bidang studi
membuat pemahaman akan karakteristik dan isi bahan ajar, mengusai konsepnya,
mengenal metodologi ilmu yang bersangkutan, memahami konteks bidang itu dan
juga kaitanya dengan masyarakat, lingkungan dan dengan ilmu lain. Jadi guru
tidak cukup hanya mendalami ilmunya sendiri tetapi temasuk bagaimana dampak dan
relasi ilmu itu dalam hidup masyarakat dan ilmu-ilmu yang lain. Maka guru di
harapkan punya wawasan yang luas.
b. Kompetensi Kepribadian
Menurut Zid (2008:67), kompetensi kepribadian adalah
kepribadian guru sebagai pendidik yang memiliki kepribadian yang mantap,
stabil, dewasa, arif dan bijaksanaaa, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi
teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri, dan
mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Kompetensi bersifat personal atau
kepribadian dan kompleks serta merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan
potensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, yang dimiliki
seseorang yang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian-bagian
yang dapat diaktualisasikan atau diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja
untuk menjalankan profesi tersebut.
c. Kompetensi Profesional
Profesional terkait dengan kemampuan memahami
tugas-tugas serta hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas tersebut sera lebih
mendalam. Orang yang profesional tidak hanya mampu melaksanakan tugas pokoknya,
namun juga mampu melaksanakan hal-hal yang terkait dengan keberhasilan tugas
pokok tersebut (Siagian, 1997:197).Prof esional dapat juga berarti memiliki karakteristik
pemahaman teknik pekerjaan yang lebih baik dan lebih luas. Lebih baik,
diartikan sebagai pemahaman yang mendalam, dan memahami keterkaitan antara
tugas-tugasnya dengan aspek-aspek lain
yang berkaitan
dengan itu.
Seseorang dikatakan profesional apabila memiliki karakteristik
sebagai berikut:
·
memiliki komitmen
yang kuat dan berjangka panjang terhadap keahlian mereka.
·
memiliki loyalitas
yang lebih tinggi terhadap pekerjaannya daripada kepada
pimpinannya.
·
selalu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya sesuai dengan perkembangan zaman.
·
dalam bekerja tidak terikat dengan
jadwal regulernya. Untuk menjadi profesional diperlukan pengetahuan yang
relevan dengan bidang tugas yang digeluti. Pengetahuan ini di dapat dari
pendidikan dan pengalaman.
DG
Armstrong dalam Sudjana (2002:69) mengemukakan ada lima tugas dan tanggung
jawab pengajar, yakni tanggung jawab dalam:
·
pengajaran.
·
bimbinganbelajar.
·
pengembangan kurikulum.
·
pengembangan profesinya.
·
pembinaan kerjasama dengan masyarakat.
Ali (2000:4-7) mengemukakan tiga macam tugas
utama guru, yakni:
·
merencanakan tujuan proses belajar
mengajar, bahan pelajaran, proses belajar mengajar yang efektif dan efisien,
menggunakan alat ukur untuk mencapai tujuan pengajaran tercapai atau tidak.
·
melaksanakan pengajaran.
·
memberikan balikan (umpan balik).
·
Kompetensi Sosial.
Menurut Zid (2008:6), kompetensi sosial diartikan
sebagai kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan, menggunakan
kronologi komunikasi dan informasi secara fungsional,
bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesania pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan bergaul secara santun dengan
masyarakat sekitar.
Selanjutnya menurut Hamka (2006:13) bahwa kompetensi sosial guru
meliputi; kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.Bergaul dan melayani masyarakat dengan baik, mendorong
dan menunjang kreativitas masyarakat, menjaga emosi dan perilaku yang kurang
baik, dan menempatkan diri sesuai dengan tugas dan fungsinya baik di sekolah
maupun di lingkungan masyarakat.
2. Mutu Lulusan
Secara
umum, mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa
yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau
yang tersirat. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses,
dan output pendidikan (Umaidi, 1999:2).
Mutu sekolah diukur
dari output pendidikan yang meliputi efektivitas, produktivitas, efesiensi,
inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerja. Khusus yang berkaitan dengan
mutu lulusan dikaitkan dengan mutu sekolah, dapat dijelaskan bahwa output
sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khusunya
prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam : (1) prestasi
akademik berupa nilai ulangan nasional (UN), karya ilmiah, lomba akademik, dan
(2) prestasi non-akademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olah
raga, kesenian, keterampilan kejujuran, dan kegiatan- kegiatan ektsrakurikuler
lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling
berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
(Umaidi, 1999:4).
Ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu
pendidikan yaitu :
·
kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan
nasional menggunakan
pendekatan
educational production function atau input-input analisis yang tidak consisten.
·
penyelenggaraan pendidikan dilakukan
secara sentralistik.
·
peran serta masyarakat khususnya orang
tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Usman, 2001:223).
Kesimpulan :
Jadi
dapat kita tarik kesimpulan bahwa standar kelulusan tidak dilihat dari seberapa
besar anak didiknya yang lulus tapi yang jadi penilaian adalah seberrapa besar
para peserta didik dapat mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan baik itu dalam
keluarga maupun akademiknya.
Dan
jangan memjadi patokan bahwa sekolah yang banyak peminatnya itu menjadi sekolah
yang bagus tapi perlu diketahui bahwa sekolah yang memiliki siswa yang kurang
siswanya dapat menciptakan orang-orang yang kompeten tidak kalah dengan
sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai. Karena terlalu banyaknya
para peserta didik pun menjadi suatu kendala dalam peningkatan mutu pendidikan
di Negara ini khususnya.
Hingga
yang terakhir adalah para tenaga pengajar yang nenjadi tolak ukur untuk sebuah pendidikan.
Seperti kata orang bijak bahwa tidak ada orang yang bodoh tapi yang ada hanya
orang yang tidak punya kesempataan diajari oleh orang-orang yang pintar. Itulah
mengapa para guru menjadi alat vital dalam dunia pendidikan.
Daftar Pustaka :
Ali,
H. Muhammad. 2002. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
BaruAlgensindo Offset.
Arikunto,
Suharsimi. 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka
Cipta,
Jakarta.
Departemen
Pendidikan Nasional, 2008,Sertifika si Guru dalam Jabatan Tahun 2008:
Buku 6.
Langganan:
Postingan (Atom)
